Saika Murasame
- (Go to Fast Reply)
September 15, 2009 03:51 pm
*baca thread*
Hem...
*Hembusin nafas* Hoh...
Kudos ke mbak Gita, Xali, Fuku, sama AP yang memberikan komentar dan argumentasi berdasar dengan material material yang telah di update tanpa dipengaruhi dengan luapan emosional. Dari apa yang saya pantau hingga sekarang, semakin banyak orang mengetahui seluk beluk permasalahannya, orang pasti akan terdiam sejenak dan akhirnya kembali berpikir. Semakin baseless mereka, semakin menjadi jadi kemarahannya. Terlebih lagi, orang yang hanya melempar komentar emosional singkat tanpa berisi patut ditanya apakah mereka benar benar peduli masalah ini. *sigh*
Basis permasalahan ini sebenarnya merupakan kesalahan media semata yang seenaknya bekerja dengan cara mereka tanpa melihat policy dari kedua belah pihak negara.
| QUOTE ("~mademoiselle~") |
| Indonesia uda ngajuin surat protes ke kedubes malaysia dan nelpon langsung ksana, tapi kedubes malaysia bilang kalo itu iklan isinya bukan buatan malay(ah biarin ah gag gw gedein huruf depannya), isi iklan itu semua dibuat sana prod. house yaitu PH KRU dan itu iklan bwt ditayangin di acara discovery channel. Sedangkan saat pihak PH dikontak mereka bilang kalo itu sekalian promosi wisata Indonesia karena Indonesia sm malaysia itu deket dry.gif, wah asyik ni promosi gratis *ditendang* dan saat pihak kedubes ditanya apakah Iklan itu dibiayai sama pem. malaysia mereka gag mau jawab.. weird eh? |
Dari informasi yang saya terima baru baru ini. Prod, house yang bertanggung jawab atas komersial tersebut terletak di Singapura. Pemerintah Malaysia tampaknya menggunakan Outsourcing untuk iklan pariwisatanya ke negara lain. Langkah yang salah. Karena para produsennya kurang begitu mengenal kebudayaan Malaysia. Dan karena faktor inilah, mereka kurang bisa membedakan mana Kebudayaan Malaysia dan Indonesia yang dimata mereka sama. Maka terjadilah pembiasan kebudayaan.
Mengenai pemerintahan Malaysia susah dikontak itu, itu merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakatnya sendiri. Ingat tentang pemerintahan Soeharto dulu? yah, tidak ada demonstrasi tidak ada keributan dijalan. Walaupun ada masalah, mereka masih menyimpannya diam diam. Lha wong, dosen saya protes tentang kebijakan demokrasi di Malaysia merasa sudah hilang saja besok besok ditahan polisi.
| QUOTE ("Espada") |
| tapi tetep aja gan gw ngga terima yang rakyat malay itu bilang kalau budayanya sama satu sama lain. |
Berapakah jumlah pekerja Indonesia yang berada di Malaysia? 3 Juta lebih. Berapakah yang ingin merasakan kebudayaannya sendiri sementara mereka bekerja di negeri orang? Hampir semuanya.
Dari beberapa di antara mereka yang kangen sama rumah, mereka pasti akan me-reenact kebudayaannya sendiri. Sementara orang Indonesia berusaha melepas rindu mereka dengan kebudayaannya sendiri, orang Malaysia ignoran yang melihat hal tersebut merasa bahwa kebudayaan mereka sama. Maka mereka akan berkata, "Kebudayaan kita sama" tanpa melihat perbedaannya di sisi dari mana negara mereka berasal.
Bos Xali, pasti ingat pertanyaan Larry "Pixy" Foulke dari Ace combat Zero.
"Can you see any borders from here? What have borders given us?"Well, pretty much anything.
...Kalau menurut saya sih... alihkan masalah ini untuk sementara ya = =a. Ya udahlah ya, masalahnya juga gara gara Prod. House yang gak etis. Sekarang sih yang paling penting itu ya...
There's a public enemy, bomber-terrorist, let loose on the streets! EGAD! Dx