December 30, 2009 11:01 pm
| QUOTE |
IMO, standardisasi sangat penting dan influensial bagi pendidikan Indonesia jika dapat dilaksanakan dengan baik. Standardisasi yang diperlukan itu adalah proses pencarian sekolah yang kekurangan dan memperbaiki sekolah-sekolah tersebut agar mereka naik tingkat--itu standardisasi, kan, agar semuanya sesuai standar?
|
Secara idealistis. Dalam realisasi? Justru, IMO, dalam tahap standardisasi justru terdapat beberapa pihak yang sulit untuk diajak berkooperasi. (Dalam konteks ini, siswa)
EDIT: Yang saya maksud disini adalah penyimpangan yang dilakukan beberapa siswa dalam proses standardisasi tersebut, yang akan membuat proses tersebut, tidak efisien dan menambah ekspenditur negara. Jika pemerintah ingin membuat sebuah standardisasi, cara test massal, IMO kuranglah efisien, dan membutuhkan sesuatu yang lebih
less budget consuming mengingat kondisi finansial negara kita yang kurang maju.
| QUOTE |
Seleksi alam seperti apa? ' 'a Tetap saja, sistem seleksi harus ada, kan? Walau tidak ada UN, tetap saja akan ada sistem yang menggantikannya sebagai standar kelulusan, dan saya rasa, seleksi macam apapun yang ada tidak dapat dikategorikan sebagai seleksi alam, IMO... Masalahnya kan tinggal sistem apa yang menggantikannya seandainya UN ingin digantikan. Mungkin signifikansinya bisa dikurangi dan faktor lain seperti nilai sehari-hari, dsb. bisa ditambahkan... entah, mungkin itu yang bisa didiskusikan di sini. IMO, mengatakan "seleksi alam" itu solusi yang amat... samar =w=b
|
Seleksi alam yang saya maksud adalah biarlah alam yang menentukan keberlangsungan hidup dari sebuah organisme. Dalam konteks ini, walaupun UN ditiadakan, murid yang bersangkutan, akan mengalami proses dimana mereka akan diseleksi secara automatis, mana yang akan dapat berhasil, dan mana yang tidak-- maaf, maksud saya, kurang berhasil. Hal ini
seharusnya dapat memicu antusiasme siswa ybs dalam proses kbm. IMO, dalam proses
penentuan hasil yang dilakukan oleh pemerintah, dalam kata lain, UAN, terdapat banyak sekali... penyimpangan yang sangat signifikan, maka dari itu, saya menyebutnya tidak efisien. Dan hal ini membuat ekspenditur negara membengkak (Proyek UN, seperti yang kita ketahui, membutuhkan dana yang cukup besar)
Berkaitan dengan standardisasi, menurut saya, hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mengesampingkan UN.
EDIT: Saya kurang setuju jika UN adalah standar kelulusan mutlak, karena seperti yang kita ketahui, faktor intelektual bukanlah satu satunya prasarana seorang siswa untuk dapat melangkah maju menuju jenjang kehidupan yang lebih tinggi, tetapi kecerdasan secara emosional (EQ) pun merupakan hal yang influensial. Maka dari itu, seharusnya sekolah dapat memberikan
assessment tertentu, dimana assessment tersebut akan mempengaruhi kelulusan siswa tersebut, walaupun pemerintah telah memberikan
lampu hijau lulus seorang siswa.
Terimakasih atas perhatianya dan balasanya.
Dengan Hormat,
Shujinkou.